Jakarta, 5 Oktober 2026 – Mantan gelandang Manchester United Fred melontarkan kritik terhadap cara Erik ten Hag menangani skuad selama menjadi pelatih di Old Trafford. Pemain asal Brasil tersebut menilai terdapat sejumlah persoalan dalam pengelolaan tim yang memengaruhi hubungan antara pelatih dan pemain. Menurut pandangannya, kemampuan mengatur ruang ganti menjadi salah satu aspek yang kurang berjalan dengan baik pada periode kepemimpinan Ten Hag. Situasi tersebut disebut membuat hubungan dengan beberapa pemain mengalami ketegangan. Fred menilai kondisi seperti itu pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas sebuah tim.
Fred pernah bekerja langsung di bawah Ten Hag sehingga memiliki pengalaman mengenai pendekatan pelatih asal Belanda tersebut. Ia menjadi bagian dari skuad Manchester United ketika Ten Hag mulai membangun tim sesuai dengan pendekatan yang diinginkannya. Pada periode tersebut, MU melakukan sejumlah perubahan dalam komposisi pemain maupun pola permainan. Persaingan mendapatkan tempat utama juga berlangsung ketat seiring perubahan yang diterapkan tim pelatih. Fred kemudian meninggalkan Old Trafford setelah perannya tidak lagi sebesar sebelumnya.
Dalam penilaiannya, Fred menyoroti pentingnya kemampuan seorang pelatih menjaga komunikasi dengan seluruh anggota skuad. Pemain yang tidak mendapatkan kesempatan bermain tetap membutuhkan kejelasan mengenai peran dan alasan di balik keputusan pelatih. Ketika komunikasi tidak berjalan secara efektif, ketidakpuasan berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di ruang ganti. Menurut Fred, aspek pengelolaan pemain menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Ten Hag selama bekerja di Manchester United. Ia melihat kualitas taktik saja tidak selalu cukup untuk menjaga stabilitas sebuah tim dengan banyak pemain berprofil tinggi.
Periode Ten Hag di Manchester United memang diwarnai sejumlah perselisihan yang mendapat perhatian luas. Beberapa pemain pernah mengalami situasi sulit terkait posisi mereka dalam skuad maupun hubungan dengan tim pelatih. Kondisi tersebut membuat kemampuan Ten Hag dalam mengelola karakter berbeda di ruang ganti menjadi bahan perdebatan. Pada saat yang sama, pelatih juga memiliki tanggung jawab mempertahankan disiplin dan standar yang berlaku untuk seluruh pemain. Karena itu, keputusan terhadap pemain tertentu tidak selalu dapat dilepaskan dari kebutuhan menjaga aturan internal tim.
Fred menilai Manchester United memiliki tekanan yang berbeda dibandingkan banyak klub lain karena setiap persoalan dapat dengan cepat menjadi perhatian besar. Pemain maupun pelatih harus menghadapi tuntutan untuk menghasilkan kemenangan sekaligus menjaga situasi ruang ganti tetap kondusif. Ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan, persoalan internal biasanya mendapatkan sorotan lebih besar. Dalam kondisi seperti itu, komunikasi antara pelatih dan pemain menjadi semakin penting. Fred melihat pengelolaan hubungan tersebut sebagai salah satu area yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih besar selama era Ten Hag.
Meski menyampaikan kritik, penilaian Fred merupakan perspektifnya berdasarkan pengalaman berada di lingkungan Manchester United pada periode tersebut. Ten Hag juga memiliki pendekatan tersendiri dalam menjaga disiplin serta menentukan pemain berdasarkan kebutuhan tim. Seorang pelatih harus membuat keputusan yang terkadang tidak dapat memuaskan seluruh anggota skuad, terutama ketika persaingan mendapatkan tempat sangat tinggi. Perbedaan pandangan antara pelatih dan pemain karena itu dapat terjadi dalam sebuah tim profesional. Namun, kemampuan mencegah perbedaan tersebut berkembang menjadi konflik terbuka tetap menjadi bagian penting dari kepemimpinan.
Komentar Fred kembali membuka pembahasan mengenai dinamika ruang ganti Manchester United selama kepemimpinan Erik ten Hag. Pengalaman sang gelandang memberikan gambaran mengenai tantangan yang muncul ketika pelatih harus mengelola skuad besar dengan karakter dan kepentingan berbeda. Kritik mengenai komunikasi dan hubungan dengan pemain menjadi bagian dari evaluasi terhadap perjalanan Ten Hag di Old Trafford. Bagi Manchester United, pengalaman tersebut juga menjadi pelajaran mengenai pentingnya keseimbangan antara strategi, disiplin, dan manajemen manusia. Pada level tertinggi sepak bola, keberhasilan pelatih tidak hanya ditentukan oleh taktik di lapangan, tetapi juga kemampuannya membangun hubungan yang stabil dengan para pemain.





