Jakarta, 4 Oktober 2026 – Cara orang tua merespons perilaku dan emosi anak memiliki peran penting dalam perkembangan kemampuan mereka mengendalikan diri. Pola asuh yang hangat tetapi tetap memiliki batasan jelas dapat membantu anak memahami perilaku yang diharapkan tanpa membuat mereka merasa takut untuk mengekspresikan perasaan. Pendekatan seperti ini sering dikaitkan dengan pola asuh otoritatif, yakni orang tua memberikan perhatian sekaligus menerapkan aturan yang konsisten. Anak pun memiliki ruang untuk belajar mengenali konsekuensi dari setiap tindakannya.
Dalam keseharian, orang tua dapat memulainya dengan mendengarkan ketika anak sedang marah, kecewa, atau sedih sebelum memberikan arahan. Emosi anak tidak harus selalu dihentikan karena kemampuan mengendalikan perasaan berkembang secara bertahap. Orang tua dapat membantu dengan memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan, kemudian menunjukkan cara mengekspresikannya secara aman. Anak akhirnya belajar bahwa merasa marah merupakan hal yang wajar, tetapi memukul, berteriak berlebihan, atau menyakiti orang lain tetap memiliki batasan.
Konsistensi menjadi bagian penting dalam membentuk perilaku anak. Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak kesulitan memahami mana perilaku yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Karena itu, orang tua sebaiknya menetapkan batasan sederhana yang sesuai usia kemudian menerapkannya secara konsisten. Konsekuensi juga perlu berkaitan dengan perilaku yang dilakukan dan bertujuan mengajarkan tanggung jawab, bukan sekadar memberikan hukuman.
Memberikan contoh secara langsung tidak kalah penting karena anak banyak mempelajari perilaku melalui interaksi dengan orang di sekitarnya. Ketika orang tua mampu mengelola kemarahan, berbicara dengan tenang, meminta maaf setelah melakukan kesalahan, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, anak mendapatkan contoh nyata tentang regulasi emosi. Sebaliknya, respons yang selalu berupa bentakan dapat membuat anak melihat kemarahan sebagai cara normal untuk menghadapi masalah. Kebiasaan dalam keluarga akhirnya menjadi salah satu lingkungan belajar sosial pertama bagi anak.
Pujian juga dapat diberikan secara spesifik ketika anak menunjukkan perilaku positif. Alih-alih hanya mengatakan anak pintar atau baik, orang tua dapat menjelaskan perilaku yang diapresiasi, misalnya karena anak bersedia menunggu giliran atau mampu mengatakan sedang marah tanpa melakukan tindakan agresif. Cara tersebut membantu anak mengetahui perilaku apa yang perlu dipertahankan. Penguatan positif dapat diberikan secara wajar tanpa harus selalu berbentuk hadiah.
Namun, kemampuan mengatur emosi tidak berkembang dalam waktu singkat dan dapat berbeda pada setiap anak. Faktor usia, temperamen, kondisi lingkungan, pola tidur, hingga situasi yang sedang dihadapi dapat memengaruhi respons emosional. Orang tua perlu menyesuaikan harapan dengan tahap perkembangan anak dan tidak menuntut kemampuan pengendalian diri seperti orang dewasa. Kesabaran serta komunikasi yang konsisten menjadi bagian dari proses pembelajaran tersebut.
Tujuan pola asuh pada akhirnya bukan membuat anak selalu patuh atau tidak pernah marah, melainkan membantu mereka memahami aturan sekaligus belajar mengelola emosi dengan sehat. Hubungan yang hangat, batasan yang jelas, komunikasi terbuka, dan keteladanan orang tua dapat menjadi fondasi untuk membentuk keterampilan tersebut. Jika ledakan emosi anak berlangsung sangat sering, membahayakan diri atau orang lain, atau mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan, orang tua dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga profesional. Pendampingan yang sesuai dapat membantu mengetahui kebutuhan anak dan menentukan pendekatan yang tepat.





