Jakarta, 5 Mei 2026 – Amerika Serikat melontarkan tuduhan serius terhadap China yang disebut turut “membiayai” Iran melalui pembelian energi dalam jumlah besar. Pernyataan ini memperkeruh situasi geopolitik yang sudah memanas, khususnya di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis Selat Hormuz.
Tuduhan tersebut disampaikan oleh pejabat tinggi pemerintah AS yang menyebut Iran sebagai negara sponsor terorisme, sementara China dianggap berperan secara tidak langsung dalam mendukung aktivitas tersebut melalui transaksi ekonomi. Disebutkan bahwa sebagian besar ekspor energi Iran justru diserap oleh China, sehingga menciptakan aliran dana yang signifikan.
Menurut pihak AS, hubungan ekonomi tersebut tidak bisa dipisahkan dari dinamika keamanan global. Pembelian energi dalam skala besar dinilai bukan sekadar aktivitas perdagangan biasa, melainkan memiliki dampak geopolitik yang luas, terutama dalam konteks konflik dan stabilitas kawasan.
Di sisi lain, China tidak tinggal diam. Pemerintah Beijing sebelumnya telah menegaskan bahwa posisinya lebih condong pada stabilitas dan dialog, serta menolak tuduhan yang dianggap tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. China juga menilai bahwa penyelesaian konflik seharusnya dilakukan melalui jalur diplomasi, bukan saling menyalahkan.
Situasi ini semakin kompleks karena terjadi di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk konflik di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Ketegangan tersebut berdampak langsung pada pasar energi global serta hubungan antarnegara besar.
Para pengamat menilai tuduhan ini tidak hanya soal Iran, tetapi juga bagian dari persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan China di panggung global. Hubungan kedua negara yang sudah sensitif berpotensi semakin memburuk jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Selain itu, isu ini juga berkaitan dengan rencana pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin AS dan China. Tuduhan yang dilontarkan menjelang pertemuan tersebut dinilai dapat menjadi tekanan diplomatik sekaligus bagian dari strategi negosiasi.
Dengan kondisi ini, dunia internasional terus memantau perkembangan situasi. Ketegangan yang melibatkan kekuatan besar seperti AS, China, dan Iran dinilai memiliki potensi dampak luas, tidak hanya pada keamanan, tetapi juga ekonomi global.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda meredanya tensi. Upaya diplomasi diharapkan dapat menjadi jalan keluar agar konflik tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar di masa mendatang.







