Jakarta, 5 Mei 2026 – Pemerintah Korea Selatan dilaporkan masih mempertimbangkan permintaan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk ikut terlibat dalam operasi militer di Selat Hormuz. Permintaan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan strategis tersebut.
Seoul disebut tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru karena mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk stabilitas kawasan, kepentingan nasional, serta hubungan diplomatik dengan negara-negara lain. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia, termasuk bagi Korea Selatan yang sangat bergantung pada impor minyak.
Keterlibatan militer dalam konflik di kawasan tersebut dinilai memiliki risiko tinggi, baik dari sisi keamanan maupun dampak politik. Oleh karena itu, pemerintah Korea Selatan disebut melakukan kajian mendalam sebelum menentukan sikap resmi.
Di sisi lain, hubungan erat antara Korea Selatan dan Amerika Serikat menjadi pertimbangan penting. Sebagai sekutu utama, Seoul berada dalam posisi yang cukup kompleks antara menjaga aliansi strategis dan menghindari keterlibatan langsung dalam konflik.
Para pengamat menilai bahwa Korea Selatan kemungkinan akan memilih pendekatan yang lebih hati-hati, seperti memberikan dukungan non-militer atau terbatas pada aspek pengamanan jalur pelayaran, tanpa terlibat langsung dalam operasi tempur.
Situasi ini mencerminkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah, di mana setiap keputusan negara-negara besar dan sekutunya dapat berdampak luas terhadap stabilitas global.
Hingga saat ini, pemerintah Korea Selatan belum mengumumkan keputusan final. Perkembangan lebih lanjut masih akan ditentukan berdasarkan hasil evaluasi internal serta dinamika situasi di lapangan.





