Surabaya, 31 Juli 2026 – Mar’atus Suci mencatat pencapaian membanggakan setelah menjadi lulusan terbaik Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya atau Unesa melalui jalur prestasi yang membuatnya dapat menyelesaikan studi tanpa skripsi konvensional. Prestasinya dalam Kontes Robot Terbang menjadi bagian penting dari perjalanan akademik tersebut sekaligus menunjukkan bahwa capaian mahasiswa di bidang inovasi dapat memperoleh pengakuan dalam penyelesaian pendidikan tinggi. Kompetisi yang diikutinya menuntut kemampuan teknis, kerja tim, serta penerapan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. Pengalaman tersebut menjadi bukti kompetensi yang tidak hanya dinilai melalui teori di ruang kelas. Keberhasilannya sekaligus menunjukkan semakin beragamnya bentuk pencapaian akademik mahasiswa di tengah perkembangan pendidikan berbasis proyek dan inovasi.
Kesempatan menyelesaikan studi tanpa skripsi bukan berarti proses kelulusan berlangsung tanpa tugas akademik maupun evaluasi. Prestasi yang diperoleh melalui kompetisi dapat menjadi bentuk rekognisi terhadap kemampuan mahasiswa apabila memenuhi persyaratan yang ditentukan program studi dan universitas. Dalam bidang teknik, proyek robotika memiliki tingkat kompleksitas yang membutuhkan proses perancangan, pengujian, analisis, serta penyelesaian masalah. Mahasiswa harus mampu menerapkan berbagai konsep menjadi sistem yang benar-benar bekerja. Proses tersebut memiliki karakter yang dekat dengan penelitian terapan karena hasilnya dapat diuji secara langsung.
Kontes Robot Terbang menjadi arena yang mempertemukan mahasiswa dengan tantangan teknologi penerbangan tanpa awak. Tim peserta tidak hanya dituntut membuat perangkat yang dapat terbang, tetapi juga mengembangkan sistem sesuai misi dan aturan kompetisi. Pengerjaan dapat melibatkan desain struktur, elektronika, pemrograman, sistem kendali, sensor, hingga pengujian penerbangan. Kesalahan kecil pada salah satu komponen dapat memengaruhi performa keseluruhan perangkat. Karena itu, keberhasilan dalam kompetisi membutuhkan kemampuan mengintegrasikan berbagai bidang teknik sekaligus.
Mar’atus Suci harus melewati proses panjang bersama tim sebelum mencapai prestasi yang kemudian mendukung perjalanan akademiknya. Persiapan kompetisi robot tidak selesai hanya dalam beberapa hari karena desain perlu diuji berulang kali untuk menemukan kelemahan. Setiap kegagalan pengujian menjadi bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan pada perangkat maupun sistem. Proses tersebut mengajarkan kemampuan menyelesaikan masalah yang sulit diperoleh apabila pembelajaran hanya berfokus pada teori. Pengalaman bekerja dalam tekanan target kompetisi juga melatih kemampuan mengatur waktu dan membagi tanggung jawab.
Predikat lulusan terbaik FT Unesa menambah pencapaian karena menunjukkan performa akademiknya tetap terjaga di tengah aktivitas kompetisi. Mahasiswa yang aktif dalam proyek teknologi harus membagi perhatian antara jadwal kuliah, tugas, kegiatan tim, dan persiapan perlombaan. Keseimbangan tersebut membutuhkan disiplin karena kompetisi dapat menyita waktu panjang, terutama menjelang tahap pengujian dan pertandingan. Prestasi di luar kelas tidak dapat sepenuhnya menggantikan tanggung jawab akademik yang masih harus diselesaikan. Kombinasi keduanya menjadi salah satu faktor yang membuat pencapaian tersebut menarik perhatian.
Kebijakan pengakuan prestasi sebagai alternatif tugas akhir juga memperlihatkan perubahan pendekatan pendidikan tinggi. Skripsi tetap menjadi jalur penting untuk melatih mahasiswa melakukan penelitian secara sistematis, tetapi kompetensi dapat dibuktikan melalui bentuk lain yang memiliki bobot akademik setara apabila memenuhi standar. Proyek inovasi, publikasi ilmiah, karya teknologi, maupun prestasi kompetisi dapat menjadi alternatif pada skema tertentu. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memilih bentuk penyelesaian studi yang sesuai dengan kemampuan mereka. Namun, standar penilaian tetap harus ketat agar kualitas lulusan tetap terjaga.
Bagi mahasiswa teknik, kisah Mar’atus dapat menjadi gambaran bahwa keterlibatan dalam kompetisi tidak hanya menghasilkan medali atau penghargaan. Pengalaman tersebut dapat membangun portofolio yang menunjukkan kemampuan merancang, bekerja dalam tim, menguji teknologi, dan menyelesaikan persoalan nyata. Kompetensi seperti itu memiliki nilai ketika lulusan memasuki dunia kerja maupun melanjutkan penelitian. Perusahaan teknologi membutuhkan tenaga yang mampu mengubah konsep menjadi produk atau sistem yang dapat digunakan. Pengalaman kompetisi dapat menjadi salah satu bukti bahwa kemampuan tersebut telah dilatih sejak bangku kuliah.
Keberhasilan Mar’atus Suci menjadi lulusan terbaik FT Unesa melalui prestasi Kontes Robot Terbang menunjukkan bahwa pencapaian akademik dapat hadir melalui jalur yang semakin beragam. Kesempatan menyelesaikan studi tanpa skripsi konvensional bukan jalan pintas, melainkan bentuk rekognisi terhadap prestasi dan kompetensi yang telah memenuhi persyaratan akademik. Perjalanan mengembangkan robot terbang menuntut kemampuan teknis, ketekunan, kolaborasi, dan keberanian menghadapi kegagalan selama proses pengujian. Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kampus memberikan ruang bagi mahasiswa yang unggul melalui inovasi dan karya terapan. Dari kompetisi robot hingga meraih predikat lulusan terbaik, perjalanan Mar’atus menjadi contoh bagaimana aktivitas akademik dan prestasi teknologi dapat saling melengkapi dalam membentuk lulusan yang siap menghadapi tantangan setelah meninggalkan kampus.




