Jakarta, 5 September 2026 – Pemerintah terus memperkuat strategi untuk menarik investasi asing sekaligus mempercepat program hilirisasi sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan terdapat tiga pendekatan utama yang menjadi perhatian untuk menjaga Indonesia tetap kompetitif di tengah persaingan global memperebutkan modal. Ketiga strategi tersebut mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, penciptaan kepastian regulasi dan iklim investasi, serta pengembangan infrastruktur yang mampu mendukung kebutuhan industri. Pemerintah menilai besarnya sumber daya alam Indonesia tidak akan cukup untuk menarik investor apabila tidak diikuti kesiapan ekosistem usaha. Investasi yang masuk juga diarahkan semakin banyak menghasilkan nilai tambah di dalam negeri melalui hilirisasi.
Strategi pertama adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. Pemerintah menilai investor tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan bahan baku dan ukuran pasar sebelum menanamkan modal, tetapi juga kemampuan tenaga kerja di negara tujuan investasi. Perkembangan industri berbasis teknologi membuat kebutuhan terhadap pekerja dengan keterampilan teknis semakin tinggi. Karena itu, pendidikan vokasi, pelatihan kerja, peningkatan keterampilan, serta kerja sama antara lembaga pendidikan dan dunia industri perlu terus diperkuat. Ketersediaan tenaga kerja yang kompeten diharapkan membuat perusahaan global lebih percaya diri membangun fasilitas produksi jangka panjang di Indonesia.
Pengembangan sumber daya manusia juga berkaitan erat dengan agenda hilirisasi karena proyek pengolahan bahan mentah membutuhkan kompetensi yang berbeda dibandingkan kegiatan ekstraksi. Industri pengolahan mineral, manufaktur, energi, petrokimia, hingga ekosistem kendaraan listrik membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknis yang semakin kompleks. Pemerintah ingin investasi tidak hanya menghasilkan lapangan kerja dalam jumlah besar, tetapi juga mendorong transfer pengetahuan dan teknologi. Tenaga kerja Indonesia diharapkan dapat terlibat semakin jauh dalam proses produksi bernilai tambah tinggi. Dengan demikian, manfaat investasi dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.
Strategi kedua berkaitan dengan kepastian regulasi serta penciptaan iklim investasi yang semakin kondusif. Pemerintah menyadari kepastian hukum menjadi salah satu pertimbangan utama investor sebelum mengambil keputusan penanaman modal dalam skala besar. Perizinan yang panjang, perubahan aturan secara tiba-tiba, maupun tumpang tindih kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah dapat meningkatkan risiko investasi. Karena itu, penyederhanaan proses perizinan dan harmonisasi regulasi terus didorong untuk memberikan kepastian kepada dunia usaha. Pemerintah ingin investor dapat menghitung kebutuhan biaya dan waktu proyek secara lebih akurat sejak tahap perencanaan.
Kepastian regulasi menjadi semakin penting bagi proyek hilirisasi karena investasi pada sektor tersebut umumnya membutuhkan modal besar dan memiliki jangka waktu pengembalian yang panjang. Pembangunan smelter, fasilitas pengolahan mineral, kawasan industri, pabrik baterai, maupun industri petrokimia dapat membutuhkan investasi hingga miliaran dolar AS. Investor karena itu membutuhkan keyakinan bahwa kebijakan yang menjadi dasar keputusan bisnis mereka dapat memberikan kepastian dalam jangka panjang. Pemerintah juga berupaya memperbaiki koordinasi antarkementerian dan lembaga agar persoalan yang dihadapi investor dapat diselesaikan lebih cepat. Perbaikan tersebut diharapkan meningkatkan kepercayaan sekaligus mendorong realisasi investasi yang sebelumnya masih tertahan.
Strategi ketiga adalah memperkuat infrastruktur pendukung kegiatan investasi. Infrastruktur yang dimaksud tidak hanya berupa jalan, pelabuhan, bandara, dan kawasan industri, tetapi juga ketersediaan listrik, air, gas, telekomunikasi, serta konektivitas digital. Industri membutuhkan sistem logistik yang efisien agar biaya produksi dapat ditekan dan produk Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Ketersediaan energi yang andal juga menjadi pertimbangan besar bagi industri dengan konsumsi listrik tinggi. Pemerintah karena itu mendorong pembangunan infrastruktur dilakukan sejalan dengan pemetaan kawasan yang memiliki potensi investasi dan hilirisasi.
Pemerataan infrastruktur juga diharapkan membuat investasi tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hilirisasi sumber daya alam membuka peluang pengembangan pusat pertumbuhan baru di berbagai daerah karena banyak komoditas utama berada di luar Jawa. Pengolahan mineral dapat dikembangkan lebih dekat dengan sumber bahan baku sehingga menciptakan aktivitas ekonomi baru di wilayah tersebut. Kehadiran kawasan industri kemudian dapat menarik usaha pendukung, membuka lapangan kerja, meningkatkan kebutuhan jasa, dan memperluas basis ekonomi daerah. Pemerintah ingin investasi menjadi instrumen untuk mempersempit kesenjangan pembangunan sekaligus meningkatkan kontribusi daerah terhadap perekonomian nasional.
Hilirisasi sendiri tetap ditempatkan sebagai salah satu agenda strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Kebijakan tersebut tidak hanya diarahkan pada nikel yang selama beberapa tahun menjadi salah satu contoh utama hilirisasi Indonesia. Pemerintah juga mendorong pengembangan industri pengolahan bauksit, tembaga, timah, kelapa sawit, kelapa, perikanan, serta berbagai komoditas lainnya. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dan meningkatkan nilai produk sebelum dipasarkan ke dalam maupun luar negeri. Semakin panjang rantai produksi yang berada di Indonesia, semakin besar pula potensi penciptaan pekerjaan, penerimaan negara, dan aktivitas ekonomi domestik.
Pemerintah pada saat yang sama menghadapi persaingan semakin ketat dengan berbagai negara yang juga menawarkan insentif kepada investor global. Perusahaan multinasional kini dapat membandingkan berbagai lokasi berdasarkan biaya produksi, kualitas tenaga kerja, stabilitas kebijakan, infrastruktur, akses pasar, hingga ketersediaan energi bersih. Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar dan sumber daya alam melimpah, tetapi keunggulan tersebut tetap harus didukung lingkungan usaha yang kompetitif. Karena itu, tiga strategi mengenai sumber daya manusia, kepastian regulasi, dan infrastruktur dinilai saling berkaitan. Kekurangan pada salah satu aspek dapat mengurangi daya tarik proyek meskipun faktor lainnya sudah mendukung.
Melalui penguatan tiga strategi tersebut, pemerintah berharap investasi asing yang masuk tidak sekadar menambah aliran modal, tetapi menghasilkan transformasi struktur ekonomi Indonesia. Hilirisasi diarahkan untuk membentuk industri bernilai tambah tinggi, memperkuat rantai pasok domestik, menciptakan pekerjaan berkualitas, serta meningkatkan kemampuan teknologi nasional. Pemerintah juga ingin memastikan investasi memberikan manfaat bagi daerah tempat proyek beroperasi dan tidak berhenti pada eksploitasi sumber daya alam. Peningkatan kualitas SDM, kepastian regulasi, dan pembangunan infrastruktur karena itu akan terus menjadi bagian penting dalam kebijakan investasi nasional. Jika ketiganya dapat berjalan konsisten, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan daya tarik bagi investor global sekaligus mempercepat hilirisasi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.




