Jakarta, 24 September 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mendorong Indonesia mempercepat pengembangan talenta digital agar mampu mengikuti perubahan teknologi dan kebutuhan industri. Kesiapan sumber daya manusia dinilai menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi dan solusi digital. Pengembangan kompetensi perlu dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, kompetisi teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas. Perubahan tersebut semakin penting karena AI mulai digunakan dalam berbagai aktivitas bisnis dan layanan digital.
Salah satu upaya memperkuat ekosistem tersebut dilakukan melalui Peruri Digital Summit 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 di Taman Kota Peruri. Direktur Digital Business Peruri Edwin Purwandesi menyatakan forum tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi digital nasional. Agenda itu dirancang mempertemukan masyarakat, pelaku industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas teknologi. Kolaborasi lintas sektor diharapkan membuka ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat jaringan pengembangan teknologi di Indonesia.
AI akan menjadi salah satu pembahasan utama dalam forum tersebut karena perkembangannya mulai memengaruhi cara manusia bekerja, menjalankan bisnis, dan membangun layanan digital. Namun, pembahasan tidak hanya berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi AI. Indonesia juga membutuhkan talenta yang memahami bagaimana teknologi dikembangkan, diterapkan, dan dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dengan pendekatan tersebut, peningkatan kompetensi digital diharapkan berjalan seiring dengan penciptaan inovasi yang mempunyai nilai ekonomi maupun sosial.
Selain AI, perhatian juga diarahkan pada teknologi semikonduktor yang menjadi fondasi berbagai perangkat dan layanan digital. Chip digunakan dalam beragam sistem, mulai dari perangkat elektronik dan sistem pembayaran hingga identitas digital serta infrastruktur teknologi. Penguasaan desain dan teknologi semikonduktor karena itu dipandang mempunyai nilai strategis bagi penguatan ekosistem digital nasional. Indonesia membutuhkan sumber daya manusia dengan kompetensi teknis yang mampu terlibat dalam pengembangan industri tersebut, bukan hanya menjadi pengguna produk akhir.
Untuk mendorong keterlibatan generasi muda, Peruri juga menyiapkan Peruri Chip Hackathon 2026. Kompetisi tersebut ditujukan bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan dan solusi di bidang desain chip serta semikonduktor. Melalui kompetisi, peserta memperoleh kesempatan mengasah kemampuan teknis sekaligus menerapkannya dalam proses pengembangan solusi. Model pembelajaran berbasis proyek seperti ini dapat menjadi pelengkap pendidikan formal karena peserta berhadapan langsung dengan tantangan teknologi yang lebih praktis.
Aspek lain yang akan dibahas adalah Post-Quantum Cryptography (PQC), yakni pendekatan kriptografi yang dipersiapkan menghadapi perkembangan komputasi generasi berikutnya. Kemajuan teknologi komputasi membawa peluang baru, tetapi sekaligus memunculkan tantangan terhadap sistem keamanan digital. Karena itu, pengembangan talenta tidak cukup hanya berorientasi pada AI dan kemampuan pemrograman. Kompetensi keamanan siber, kriptografi, pengelolaan data, serta pemahaman terhadap risiko teknologi juga semakin dibutuhkan untuk membangun ekosistem digital yang aman dan berkelanjutan.
Kebutuhan memperbanyak talenta digital juga terlihat dari proyeksi nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital pada 2030, sementara masih terdapat kesenjangan sekitar 3 juta talenta yang perlu dipenuhi. Kondisi tersebut membuat pengembangan kemampuan digital tidak dapat hanya mengandalkan pendidikan formal. Pelatihan, sertifikasi, kerja sama dengan industri, serta program peningkatan keterampilan bagi tenaga kerja yang sudah aktif menjadi bagian penting dalam mempersempit kesenjangan tersebut.
Perguruan tinggi juga mulai menyesuaikan program pembelajaran dengan kebutuhan era AI. Penguasaan teknologi perlu dilengkapi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, etika, dan pemahaman bisnis. Kombinasi tersebut diperlukan karena dunia kerja tidak hanya membutuhkan tenaga yang mampu mengoperasikan perangkat AI, tetapi juga orang yang dapat menentukan masalah yang tepat untuk diselesaikan menggunakan teknologi. Pendekatan pendidikan yang menghubungkan kompetensi teknis dengan kebutuhan industri menjadi semakin relevan ketika perkembangan teknologi berlangsung cepat.
Kolaborasi dengan pelaku industri menjadi penting agar kompetensi yang diajarkan tetap sesuai dengan kebutuhan lapangan. Kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja masih menjadi salah satu tantangan pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Perubahan teknologi yang cepat membuat kemampuan tenaga kerja perlu diperbarui secara berkelanjutan melalui upskilling dan reskilling. Talenta masa depan juga dituntut adaptif, mampu terus belajar, serta dapat bekerja bersama teknologi tanpa mengabaikan kemampuan manusia seperti empati dan komunikasi.
Dengan perkembangan AI yang semakin cepat, strategi menyiapkan talenta digital Indonesia pada akhirnya membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar mengajarkan penggunaan perangkat teknologi. Pendidikan AI, pengembangan industri semikonduktor, penguatan keamanan digital, kompetisi inovasi, serta kolaborasi lintas sektor perlu berjalan secara bersamaan. Forum seperti Peruri Digital Summit dan kompetisi teknologi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan generasi muda. Penguatan ekosistem tersebut diharapkan membuat Indonesia mempunyai lebih banyak talenta yang mampu menciptakan, mengembangkan, dan mengamankan teknologi di tengah transformasi menuju era AI.





