Jakarta, 8 Mei 2026 – Mata uang China atau yuan dilaporkan masih bertahan di dekat level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.
Perdagangan yuan offshore tercatat tetap bergerak stabil terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut menarik perhatian pelaku pasar global karena situasi konflik biasanya membuat investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Namun kali ini, kekuatan yuan dinilai didukung oleh membaiknya kondisi ekonomi domestik China serta meningkatnya penggunaan mata uang yuan dalam transaksi perdagangan internasional, khususnya di sektor energi dan ekspor manufaktur.
Ketegangan terbaru di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pasar internasional setelah muncul laporan bentrokan dan aksi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut meningkatkan risiko terganggunya distribusi minyak dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Meski konflik memanas, investor melihat ekonomi China masih memiliki daya tahan yang cukup kuat menghadapi tekanan global. Cadangan devisa yang besar serta kebijakan ekonomi Beijing disebut menjadi faktor utama yang membantu menjaga stabilitas yuan di pasar internasional.
Analis keuangan menilai penguatan yuan juga dipicu oleh meningkatnya penggunaan mata uang China dalam transaksi lintas negara. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai menggunakan yuan dalam perdagangan energi, impor bahan baku, dan transaksi internasional lainnya.
Di sisi lain, dolar Amerika Serikat memang masih menjadi mata uang dominan dunia, tetapi perkembangan geopolitik dan perubahan pola perdagangan internasional mulai memberikan ruang lebih besar bagi yuan untuk memperkuat posisinya di pasar global.
Pasar keuangan Asia sendiri bergerak cukup fluktuatif setelah ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Sejumlah mata uang negara berkembang sempat mengalami tekanan akibat kekhawatiran investor terhadap kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak dunia juga mengalami kenaikan karena pasar khawatir gangguan keamanan di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan energi global. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi politik dan militer di kawasan Teluk.
Pengamat ekonomi internasional menjelaskan bahwa stabilitas yuan di tengah konflik global menunjukkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap ekonomi China. Selain itu, aktivitas perdagangan China yang tetap kuat dianggap membantu menjaga arus investasi asing tetap masuk.
Meski demikian, risiko ketidakpastian global masih dinilai cukup tinggi. Jika konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat, pasar keuangan dunia diperkirakan akan menghadapi tekanan lebih besar dalam beberapa pekan mendatang.
Bank sentral China sendiri disebut terus memantau perkembangan pasar global guna menjaga stabilitas nilai tukar yuan dan mencegah gejolak berlebihan di sektor keuangan domestik.
Sementara itu, investor internasional kini masih menunggu perkembangan terbaru dari situasi Timur Tengah sambil memperhatikan kebijakan ekonomi negara-negara besar yang dapat memengaruhi arah perdagangan dan pergerakan mata uang global dalam jangka pendek maupun panjang.





